Sahabat.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) telah membangun 1.141 embung, selama periode 2014-2022.
Satu di antaranya Embung Doya, di Desa Gambirmanis, Pracimantoro, Wonogiri, yang sejak dibangun pada 2018, telah mencukupi kebutuhan air bagi 450 kepala keluarga.
Suharno, warga Dusun Galo, Gambirmanis, menjadi saksi sekaligus pengguna air embung. Menurutnya, sebelum dibangun menjadi embung permanen, di lokasi tersebut ada sebuah telaga. Namun, kondisinya jauh dari layak.
Setiap tahunnya, tampungan air di telaga hanya bertahan maksimal sampai Maret. Selanjutnya mulai April telaga tersebut sudah kering kerontang.
Setelah direvitalisasi Pemprov Jateng, sepanjang tahun selalu tersedia air. Warga dapat memanfaatkan tampungan airnya untuk berbagai keperluan.
"Saya biasanya ambil air di embung empat kali sehari. Untuk minum, untuk ngombor sapi, juga untuk menyiram tanaman," ujar Suharno, seperti dilansir dari laman jatengprov.go.id, Senin (18/9/2023).
Menurut Suharno, kondisi itu jelas berbeda ketika embung belum dibangun oleh pemerintah. Untuk pemenuhan air saat kemarau, warga harus merogoh kocek sebesar Rp120 ribu guna membeli air dalam tangki.
"Kalau keluarga besar, sebulan beli dua kali. Kalau keluarga kecil, ya sekali sebulan beli tangki airnya," ungkapnya.
Hal serupa diungkapkan Sumarno. Menurutnya, embung ini menolong keluarganya bertahan kala kemarau tiba. Sebagai petani musiman, dia kerap kali memutar otak bila kemarau tiba.
"Nah kalau ada air dari embung kan tidak bayar. Tinggal ke sini membawa ember ditumpangkan motor, bisa dapat air. Beli tangki Rp120 ribu, nah kalau kita tak ada penghasilan mau jual apa?" cerita Sumarno.
Dia mengungkapkan, tidak ragu mengonsumsi air dari embung. Karena sumbernya berasal dari hujan. Selain itu, pengaplikasian membran pada dasar embung juga menghindari cemaran zat kapur.
"Untuk diminum, kan tidak ada zat kapurnya. Untuk sapi juga. Mencuci dan sebagainya. Kalau sekarang juga sudah ada PDAM, tapi itu juga harus bayar, per (meter) kubik Rp9 ribu. Kalau dari embung tak bayar," urainya.
Subkoordinator Operasi dan Pemeliharaan Balai PSDA Bengawan Solo Suparno menjelaskan, secara teknis Embung Doya diprediksi masih bisa dimanfaatkan hingga musim hujan mendatang. Adapun, pemanfaatnya berasal dari lima dusun di Desa Gambirmanis.
"Sekitar 450 KK yang memanfaatkannya, dari Dusun Galo, Gondang Manis, Karang, Kerjo, dan Nongkosuwit," tuturnya.
Ditambahkan, secara teknis, bendungan ini mampu menampung sekitar 23 ribu meter kubik. Hingga akhir minggu kedua 2023, kondisi air berada pada posisi kedalaman 3,7 meter setara dangan 17 ribu meter kubik.
"Dari pengalaman, tampungan air tidak sampai habis," jelas Suparno.
Dia menyebut, di Kabupaten Wonogiri terdapat 12 embung yang memunyai fungsi sama seperti Embung Doya. Suparno berharap, dengan pemanfaatan air embung dapat menguatkan ketahanan ekonomi masyarakat setempat.
"Harapannya dapat menunjang ketahanan ekonomi masyarakat setempat, karena memang airnya digunakan untuk menyiram rumput, mandi, hingga cuci dan ternak," pungkas Suparno.
0 Komentar
Gencarkan Deteksi Dini Gangguan Penglihatan
Wanita Minta Bantuan KDM Usai Suaminya Tewas Jadi Korban Tabrak Lari
Menkomdigi Ajak Orang Tua Dampingi Anak Bangun Kebiasaan Digital Sehat
Pupuk Lebih Murah, Pasokan Meningkat: Pupuk Kaltim Dukung Petani dari Hulu hingga Hilir
Warga Bogor Pajang Baliho Bergambar Al Aqib, Korban Bullying Kakak Kelas
Pemerintah Berupaya Menarik Lebih Banyak Wisatawan Muslim Mancanegara
PSDK Serukan Aksi Damai Memperingati Hari Solidaritas Internasional
Leave a comment