Akademisi: Perkuat Mitigasi Longsor Struktural-nonstruktural

28 Februari 2023 12:28
Penulis: Habieb Febriansyah, news
Alat deteksi dini gerakan tanah atau longsor (elwasi) yang dikembangkan sebagai upaya mitigasi bencana di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. FOTO ANTARA/HO-BPBD Banjarnegara.

Sahabat.com - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah,  Dr Indra Permanajati menekankan perlunya memperkuat upaya mitigasi longsor secara struktural dan non-struktural.

"Mitigasi tanah longsor secara struktural bisa dengan hard protection seperti penguatan bangunan pada wilayah rawan longsor," katanya ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa.

Koordinator bidang bencana geologi Pusat Mitigasi Unsoed tersebut menambahkan penguatan bangunan dapat dilakukan dengan penguatan fondasi penahan, sistem terasering dan pengaturan drainase.

"Selain itu bisa juga dengan memanfaatkan sistem tanaman yang memperkuat lereng atau soft protection," katanya.

Sementara itu, mitigasi tanah longsor secara non-struktural bisa dilakukan dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah atau pemerintah desa.

"Hal ini untuk mengetahui potensi di daerahnya dan langkah mitigasinya mengingat intensitas curah hujan masih tinggi sehingga wilayah yang rawan atau berpotensi longsor bisa meningkatkan langkah kewaspadaan," katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa masyarakat perlu mengamati retakan-retakan yang ada di sekitar wilayahnya.

"Jika ditemukan retakan perlu segera menutup retakan dengan tanah dan melaporkan ke aparat desa agar dapat segera ditindaklanjuti," katanya.

Ia menambahkan, masyarakat juga perlu terus melakukan pengamatan terhadap rumah-rumah yang retak, membersihkan saluran-saluran yang menyumbat, dan mengamati kondisi lingkungan.

"Pengamatan kondisi lingkungan antara lain seperti mengamati kondisi mata air yang muncul tiba-tiba, pohon yang miring, suara-suara gemuruh, dan pergerakan-pergerakan tanah," katanya.

Dirinya juga mengingatkan bahwa peran aktif masyarakat merupakan salah satu kunci untuk mendukung suksesnya program mitigasi bencana. Karena itu, dia mengajak masyarakat untuk memperkuat kebiasaan menjaga lingkungan dan budaya tangguh bencana.

"Budaya tangguh bencana harus menjadi gaya hidup, dan upaya mitigasi bencana harus menjadi bagian dari keseharian masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di lokasi rawan bencana. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting dalam mendukung mitigasi bencana, termasuk tanah longsor," demikian Indra Permanajati.(Ant)

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment