Sahabat.com - Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumatra Selatan memastikan hewan ternak di wilayah itu terbebas dari penyakit antraks.
Kepala Dinas DKPP Provinsi Sumsel Ruzuan Effendi di Palembang, Senin, mengatakan hingga saat ini catatan terjangkit antraks di Sumsel masih nihil, hal itu dikarenakan pihaknya selalu melakukan pengawasan lalu lintas ternak yang masuk di daerah itu secara ketat.
“Alhamdulillah, hingga saat ini belum ada temuan kasus penyakit antraks baik pada sapi maupun manusia untuk di wilayah Sumsel, hal ini pun tidak terlepas dari kebijakan yang kami terapkan,” katanya
Ia menjelaskan kebanyakan sapi yang masuk ke wilayah Sumsel berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Lampung.
Sebelum hewan itu masuk ke Sumsel, pihaknya sudah menetapkan aturan tegas terkait kondisi kesehatan dan vaksin yang diberikan.
“Langkah itu sebagai upaya untuk meminimalisir adanya sapi berpenyakit, sehingga masyarakat dapat mengkonsumsi daging sapi yang berkualitas dan tentunya aman,” jelasnya.
Ruzuan menegaskan bahwa aturan itu juga diberikan kepada para peternak sapi. Apalagi pemerintah sudah rutin melakukan vaksinasi pada sapi, seperti pada beberapa waktu terakhir yaitu vaksin PMK.
“Hal ini terus kami lakukan secara berkelanjutan. Tentunya kami tidak ingin jika sapi atau hewan peliharaan memiliki penyakit, oleh karena itu pengawasan ketat terus dilakukan,” kata dia.
Sebagai informasi, antraks merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus Anthracis dan menyerang hewan herbivora seperti sapi, kambing, domba dan lainnya.
Penyakit tersebut bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya, namun tidak dapat ditularkan antar sesama manusia.
Ada empat jenis antraks pada manusia, yaitu antraks paru-paru, antraks pencernaan, antraks kulit, dan antraks injeksi, akan tetapi yang paling umum terjadi di Indonesia adalah antraks kulit dengan risiko kematian berkisar 25 persen karena pengaruh sayatan atau luka lecet hingga bakteri masuk ke dalam jaringan kulit.
Kemudian, antraks paru-paru dengan potensi kematian mencapai 80 persen akibat spora antraks yang terhirup ke pernapasan dan mencapai dinding alveoli.
Sedangkan, antraks pencernaan disebabkan bakterinya masuk ke tubuh penderita usai mengonsumsi daging dari hewan yang tertular dan tidak dimasak dengan sempurna, potensi kematian 25 hingga 75 persen, dan antraks injeksi sebagai jenis baru yang menyerupai antraks kulit.(Ant)
0 Komentar
KPAI Dapati 1,14 Juta Anak Masih Jadi Pekerja Anak
Kasad Panen Raya Jagung dan Singkong di Lahan Ketahanan Pangan Kostrad Ciemas Sukabumi
Siap Galau Bareng Lyodra hingga Afgan di Pesona Nusantara NTV
Tokoh Adat Ungkap Kedekatan PLN dengan Masyarakat di Sekitar Kawasan Pengembangan PLTP Ulumbu
PLN UIP Nusra Kembangkan Berbagai Sektor Potensial di Sekitar Kawasan Pengembangan PLTP Ulumbu
Polda Metro Jaya Tangkap Kekasih Artis Tamara Tyasmara
Tanggul wulan Jebol, Jalur Pantura-kudus Terputus
Wakapolri Tegaskan Tidak Ada Instruksi Video Testimoni Rektor
Leave a comment