Sahabat.com - Ketua DPRD Sumatera Barat Supardi meminta agar penempatan kepala sekolah di provinsi tersebut harus profesional sehingga orang yang menempati jabatan itu merupakan guru yang mengedepankan perkembangan siswa.
“Untuk menempatkan jabatan kepala sekolah tidak boleh main-main, mereka harus siap berkorban untuk mengedepankan dan memikirkan perkembangan siswa, jangan sampai dipolitisasi,” katanya di Padang, Rabu.
Menurut dia jabatan kepala sekolah yang diberikan kepada guru harus berdasarkan kapasitas diri dan mengedepankan perkembangan siswa, bukan atas lobi-lobi dinas atau terkontaminasi politis.
Ia menilai pada saat sekarang sebagian guru lebih mementingkan untuk menyelesaikan penerapan kurikulum daripada pencapaian yang diraih siswa dalam proses belajar, padahal itu harus berjalan beriringan.
"Banyak juga tenaga pendidik tidak optimal dalam menjalankan program merdeka belajar yang digagas oleh Kemendikbud, meski secara pribadi mendukung program itu, namun penerapan harus diperjelas," katanya
Menurut dia Sumbar dulunya merupakan provinsi acuan daerah lain dalam hal pendidikan. Namun, seiring perkembangan zaman, sekarang hanya tinggal cerita.
Begitu juga pola kerja guru yang mengalami pergeseran dengan berkembangnya teknologi, para murid pun terbiasa dengan sesuatu yang instan.
"Dari hal itu, mempengaruhi optimalisasi proses belajar mengajar," katanya menambahkan.
Dirinya juga meminta proses rekrutmen guru harus menjadi perhatian karena ada yang sekedar formalitas saja dan untuk memenuhi kebutuhan penerimaan harus sesuai dengan disiplin ilmu calon tenaga pendidik. Tolak ukur keberhasilan sektor pendidikan tidak terlepas dari peran guru yang berhasil menyukseskan muridnya.
“Guru mesti mendapatkan perlakuan yang menyenangkan agar bisa menyerap kebutuhan pola pembelajaran terhadap murid,” katanya.
Dia berharap Sumbar kembali menjadi acuan kembali seperti dahulu dalam hal pendidikan sehingga butuh kerjasama seluruh pihak, tidak terkecuali Kemendikbud.
Pangkas 25 persen
Sementara itu, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Dirjen GTK Kemendikbudristek Putra Asga mengatakan guru yang lebih mementingkan penyelesaian kurikulum adalah kesalahan semua, tidak terkecuali kementerian hingga dinas, karena terkadang ada materi-materi yang harus dikejar untuk optimalisasi kinerja.
"Demi meminimalisasi hal itu, Kemendikbudristek melakukan terobosan untuk memangkas 25 persen materi untuk memberikan ruang terhadap guru dan kepala sekolah berkolaborasi membangun proyek di daerah," katanya.
Ia mengatakan Kemendikbud telah melaksanakan program Pendidikan Guru Penggerak, yaitu pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran.
Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama sembilan bulan bagi calon Guru Penggerak. Selama program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru.
“ Dengan program ini kita akan menghasilkan kepala sekolah yang mementingkan murid, tidak hanya lobi-lobi dinas atau hal lainnya,” katanya.
Ketua DPRD Sumbar Supardi menerima Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Dirjen GTK Kemendikbud Putra Asga dalam pertemuan yang digelar pada Selasa (28/2).(Ant)
0 Komentar
KPAI Dapati 1,14 Juta Anak Masih Jadi Pekerja Anak
Kasad Panen Raya Jagung dan Singkong di Lahan Ketahanan Pangan Kostrad Ciemas Sukabumi
Siap Galau Bareng Lyodra hingga Afgan di Pesona Nusantara NTV
Tokoh Adat Ungkap Kedekatan PLN dengan Masyarakat di Sekitar Kawasan Pengembangan PLTP Ulumbu
PLN UIP Nusra Kembangkan Berbagai Sektor Potensial di Sekitar Kawasan Pengembangan PLTP Ulumbu
Polda Metro Jaya Tangkap Kekasih Artis Tamara Tyasmara
Tanggul wulan Jebol, Jalur Pantura-kudus Terputus
Wakapolri Tegaskan Tidak Ada Instruksi Video Testimoni Rektor
Leave a comment