Menjelang Panen Raya Padi di Tanah Air

29 Januari 2023 05:50
Penulis: Alber Laia, news
Dokumen - Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Baru binaan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CMI) melaksanakan panen raya padi di Desa Matan Jaya, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara (25/01/2023). (ANTARA/ISTIMEWA)

Sahabat.com - Indonesia akan menyambut masa puncak panen raya padi tahun ini yang diperkirakan bakal berlangsung sekitar Maret-April 2023.

Mengawali panen raya padi tahun ini, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) pada pertengahan Januari 2023 telah mengawali panen padi di Karawang, Jawa Barat. Dari berbagai catatan yang dilaporkan, produksi padi per hektare di Kabupaten Karawang tercatat sekitar 8 ton gabah.

Angka ini sangat mencengangkan dan menggembirakan, mengingat rata-rata produksi padi nasional sendiri berkisar antara 5 - 6 ton per hektare.

Apa yang dicapai para petani di daerah Karawang itu betul-betul memberi harapan baru bagi pembangunan pertanian di negeri ini, khususnya dalam upaya mengokohkan ketersediaan beras secara nasional.

Panen raya padi sebetulnya menarik untuk dicermati, karena selain panen raya merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh para petani beserta keluarganya atas jerih payah dan kerja keras sebagai petani selama 3 bulan lebih,  panen raya pun merupakan kesempatan bagi para petani untuk meningkatkan nasib dan kualitas kehidupannya.

Artinya, kalau hasil panen petani dapat dijual dengan harga yang wajar dan menguntungkan, tentu potret buram petani padi pun bakal dapat diubah-arahkan menjadi lebih mencerahkan.

Dengan produksi dan produktivitas padi yang tinggi, ditopang dengan harga jual di tingkat petani yang adil, dapat ditegaskan bahwa kualitas hidup petani akan semakin membaik.

Sayangnya pengalaman selama ini menunjukkan bahwa ketika musim panen tiba, ternyata para petani jarang menikmati harga yang wajar dan adil. Saat panen raya tiba, harga jual gabah dan beras, umumnya anjlok di bawah harga biasanya.

Akibatnya wajar, walau pun produksi padi mengalami peningkatan yang cukup signifikan setiap musim panen tiba, tapi permintaan tidak seiring, sehingga kesejahteraan petani padi tidak beranjak membaik. Produksi yang meningkat dengan kesejahteraan petani terbukti tidak berkorelasi secara positif.

Hal ini memperlihatkan bahwa peningkatan produksi tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani.

Sebab, yang namanya kesejahteraan petani itu sendiri ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya faktor harga jual gabah dan beras, di kala panen raya tiba. Kalau harganya anjlok, sangat sulit petani dapat hidup sejahtera dan bahagia.

Itu sebabnya, bila semua sudah memahami bagaimana hubungan antara panen raya dengan harga jual gabah dan beras di tingkat petani yang selalu anjlok, maka solusi tawarannya, mampukah bangsa ini merancang harga di tingkat petani tatkala panen raya tiba, tidak melorot cukup tajam? Bagaimana para petani supaya tidak menjadi permainan kalangan bandar atau tengkulak dalam menentukan harga jualnya?

Untuk itu Pemerintah harus betul-betul hadir di tengah persoalan petani. Negara penting mencerahkan para bandar dan tengkulak untuk menetapkan harga yang adil, sehingga petani dapat merasakan kenikmatan hasil panenannya, sedangkan bandar dan tengkulak pun merasa tidak dirugikan. Tugas negara untuk melahirkan harga yang adil tersebut melalui regulasi yang baik.


Saling menguntungkan

Prinsip bandar atau tengkulak mencintai petani dan petani menghormati bandar atau tengkulak, sudah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di perdesaan, khususnya para petani.

Semua pihak ingin terjalin persahabatan yang utuh antara petani dengan tengkulak atau bandar. Mereka penting menjalankan nilai-nilai yang silih asah, silih asih, silih asuh dan silih wawangi.

Betapa indahnya kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di tanah merdeka ini, sekiranya petani dan tengkulak dapat mengedepankan rasa saling mencintai, saling menghormati, dan tentu saja saling menolong manakala dilanda kesusahan.

Jalinan persahabatan di antara kaum petani dan tengkulak, bukan cuma keinginan, tapi juga merupakan fakta kehidupan yang dapat dirasakan.

Sebentar lagi puncak panen raya padi akan dirasakan oleh para petani. Penantian panjang sekitar tiga bulan lebih, membuat para petani was-was, apakah hasil panenan mereka akan dapat berlangsung sebagaimana yang mereka bayangkan?

Banyak di antara petani dan mereka yang bergerak pada rantai usaha pertanian dihantui perasaan khawatir menjelang panen raya terkait kemungkinan dilakukannya impor beras.

Petani pasti membutuhkan jaminan dari Pemerintah yang telah berkomitmen untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan.

Petani berharap agar Pemerintah dapat memperlihatkan keberpihakannya kepada seluruh warga bangsa, termasuk kepada para petani.

Pemerintah juga diharapkan menindak tegas jaringan mafia pangan dan menekan kemungkinan adanya oknum-oknum yang ingin mempermainkan harga di tingkat petani. Apalagi jika ada yang ingin memarginalkannya.

Ini penting dicatat, karena jika impor beras tetap ditempuh di saat panen raya berlangsung, boleh jadi harga jual gabah atau beras di tingkat petani pun akan melorot.

Untuk itu, semua berharap agar Pemerintah dapat bersikap tegas, agar sebulan menjelang puncak panen raya, impor beras tidak dilakukan. Semua itu tidak lain agar para petani bisa setidaknya merasakan kenikmatan harga atas kerja kerasnya sendiri.

Kini pokok masalahnya sudah tergambarkan. Petani tetap harus dibela dan dilindungi dari kepentingan oknum-oknum yang ingin meminggirkannya dari pentas pembangunan negeri ini.

Semua berharap agar Pemerintah mampu melahirkan kebijakan terbaik dalam menghadapi panen raya yang beberapa bulan lagi tiba di Tanah Air.

*) Entang Sastraatmadja adalah Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat.(Ant)

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment