Menteri ESDM Ungkap Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati di Sektor Transportasi

09 Oktober 2023 08:06
Penulis: Adiantoro, news
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menghadiri acara "Sustainability: Ethanol Talks", di Jakarta, Senin (9/10/2023). (Istimewa/Kementerian ESDM)

Sahabat.com - Pada 2022, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mencapai lebih dari 1.100 Million Barrel Oil Equivalent (MBOE).

Angka itu meningkat sekitar 30 persen dibandingkan dengan 10 tahun sebelumnya, atau pada 2012. Hal tersebut dikarenakan terjadinya peningkatan konsumsi BBM di sektor industri dan transportasi.

Hal tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pada acara "Sustainability: Ethanol Talks", di Jakarta, Senin (9/10/2023). Menteri Arifin mengatakan, sebagian besar dari kebutuhan domestik tersebut, berasal dari impor, terutama bensin.

"Impor bensin meningkat dari sekitar 123 juta barel pada 2015 menjadi 138 juta barel pada 2022. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan bakar tentunya akan membahayakan ketahanan energi nasional," ujar Menteri Arifin dalam keterangannya, dikutip Senin (9/10/2023).

Oleh karena itu, sebut dia, pemerintah tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungan impor minyak, dengan mengembangkan bahan bakar nabati (BBN), dimana Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumber BBN yang besar.

Seperti program biodiesel, lanjut Menteri Arifin, yang telah ditetapkan pada 2008 dengan menerapkan campuran 2,5 persen, dan terus meningkat hingga pada Februari 2023 telah ditetapkan mandatori campuran Biodiesel mencapai 35 persen, atau lazim disebut B35.

"Implementasi program biofuel juga dimaksudkan untuk mengurangi emisi hingga 31,9 persen di bawah BAU (Business as Usual) pada 2030, dan memenuhi target bauran energi sebesar 23 persen pada 2025," tambahnya.

Sementara untuk program bioetanol, Menteri Arifin mengatakan, program tersebut belum dapat berjalan secara optimal, dimana pada 2008 hingga 2009 dan 2015 hingga 2016 pencampuran bioetanol dilakukan dalam skala kecil, dan pada akhirnya harus dihentikan karena kurangnya bahan baku, harga bahan baku yang mahal, serta terbatasnya infrastruktur pendukung program bioetanol.

Meski demikian, pada November 2022, Presiden Joko Widowo (Jokowi) telah mencanangkan program bioetanol dari tanaman tebu di Mojokerto Jawa Timur untuk meningkatkan ketahanan energi nasional. 

Kemudian pencampuran bioetanol juga tengah dilaksanakan PT Pertamina melalui campuran bensin Etanol 5 persen dengan Ron 95 pada produk Pertamax Green 95 yang saat ini telah tersedia di beberapa SPBU di Surabaya dan Jakarta.

Lebih lanjut, Menteri Arifin mengatakan, untuk mendukung keberlanjutan mandatori bioetanol ke depan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel)

"Perpres tersebut didorong karena terbatasnya bahan baku tebu, dan juga terbentur dengan masalah pangan, sehingga pemerintah mendorong pengembangan bahan bakar nabati berbasis potensi lokal dan akan menciptakan pasar baru bagi produk pertanian lokal," tukas Menteri Arifin.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment