Warga Gaza Hadapi Risiko Kelaparan di Tengah Konflik

17 November 2023 04:11
Penulis: Adiantoro, news
Warga di Jalur Gaza, yang berada di bawah pengepungan Israel, menghadapi potensi kelaparan. (Anadolu Agency)

Sahabat.com - Juru bicara Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Abeer Etefa mengatakan, warga di Jalur Gaza, yang berada di bawah pengepungan Israel, menghadapi potensi kelaparan.

"Dengan semakin dekatnya musim dingin dan tempat penampungan yang tidak aman dan penuh sesak serta kekurangan air bersih, masyarakat menghadapi kemungkinan kelaparan," kata Etefa, seperti dilansir dari Anadolu Agency, Jumat (17/11/2023).

Hal itu disampaikan Etefa saat berbicara pada konferensi pers virtual PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) bersama Juliet Touma, selaku Direktur Komunikasi di Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), mengenai kondisi di wilayah Palestina.

Etefa menyampaikan warga Gaza menjadi sangat putus asa setiap hari dalam mencari roti dan makanan penting. "Roti adalah sebuah kemewahan," imbuhnya.

Dia mulai menyaksikan kasus dehidrasi dan malnutrisi, yang meningkat dari hari ke hari di Gaza. "Dengan hanya 10 persen dari kebutuhan pasokan makanan dan minuman di Gaza sejak awal konflik ini, kita kini menghadapi kesenjangan pangan yang sangat besar," tegas Etefa.

Dia menekankan, hampir 2,2 juta warga yang berada di Jalur Gaza kini membutuhkan bantuan pangan. "Produksi pangan hampir terhenti total," cetusnya.

Etefa menambahkan warga sangat beruntung jika bisa menemukan makanan, termasuk makanan dalam kemasan kaleng. Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat di Gaza, jumlah truk yang menyeberang dengan membawa bantuan makanan perlu diperbanyak.

"Tidak ada cara untuk memenuhi kebutuhan kelaparan saat ini dengan situasi saat ini. Harus punya ruang berbeda yang memungkinkan kita memiliki akses yang aman dalam menyalurkan bantuan untuk bisa masuk ke Gaza," urainya.

"Putusnya rantai pasokan makanan adalah sebuah bencana besar, dan situasi sebelum konflik sangat sulit, dan kini dihadapkan sebuah bencana," tukas Etefa. 

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment