Kemkomdigi Minta Warga Waspadai Tawaran Kerja Bergaji Tak Wajar di Luar Negeri

13 Oktober 2026 11:13
Penulis: Beno Junianto, news
Arsip Foto - Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Mediodecci Lustarini. (ANTARA/Farhan Arda Nugraha)

Sahabat.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meminta warga Indonesia mewaspadai tawaran bekerja di luar negeri (LN) dengan iming-iming gaji yang tidak wajar agar dapat terhindar dari tindak kejahatan dan pelanggaran hukum.

"Komdigi mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja yang beredar di ruang digital, terutama tawaran yang bersifat too good to be true," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Mediodecci Lustarini.

Dia menyampaikan bahwa saat ini banyak upaya penipuan yang dilakukan dengan kedok menawarkan pekerjaan di LN dengan iming-iming gaji tidak wajar. Pelaku kejahatan membagikan tawaran pekerjaan semacam itu melalui platform daring.

Sebagai contoh, tawaran untuk bekerja sebagai tentara bayaran di Rusia yang pada pada September 2026 menjadi sorotan publik.

Pemerintah Indonesia menyelidiki kemungkinan adanya tindak kejahatan seperti penipuan dan eksploitasi berkenaan dengan penawaran pekerjaan tersebut.

Mediodecci mengimbau warga yang sedang mencari pekerjaan agar jeli memeriksa sumber informasi mengenai lowongan pekerjaan di luar negeri.

"Masyarakat perlu memeriksa validitas tawaran melalui sumber resmi serta memastikan bahwa pekerjaan tersebut tidak melanggar hukum ataupun membawa dampak hukum bagi individu," kata Mediodecci.

Kemkomdigi membuka ruang pengaduan bagi warga yang mendapati konten digital berkenaan dengan lowongan pekerjaan yang dinilai mencurigakan.

"Apabila masyarakat menemukan konten terkait, masyarakat dapat melaporkannya melalui aduankonten.id untuk ditindaklanjuti," kata Mediodecci.

Seiain itu, Kemkomdigi berkolaborasi dengan instansi pemerintah lain, termasuk Polri dan Kementerian Luar Negeri, dalam menangani penyebaran informasi dan konten digital berkenaan dengan penipuan berkedok penawaran lowongan kerja.

Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Belarusia Jose Antonio Morato Tavares pada Jumat (18/9) menyampaikan bahwa KBRI Moskow menerima puluhan telepon dari warga Indonesia yang menduga kerabatnya menjadi tentara bayaran di Rusia.

Kedutaan Besar RI menginventarisasi dan memeriksa secara seksama informasi dari keluarga atau kerabat yang melaporkan bahwa anggota keluarganya menjadi tentara bayaran di Rusia.​​​​​​​

Tavares mengatakan bahwa kedutaan berupaya memverifikasi setiap laporan yang masuk, tetapi bukti lengkap kerap sulit diperoleh.

KBRI Moskow telah mengirimkan nota verbal kepada Kementerian Luar Negeri Rusia dan instansi terkait lain untuk memverifikasi laporan-laporan tersebut.

Hasil pemeriksaan mengindikasikan adanya puluhan warga Indonesia yang mendaftar menjadi tentara bayaran melalui agen-agen yang melakukan perekrutan melalui media sosial dengan iming-iming gaji besar.

Warga RI Jadi Tentara Rusia

Sebelumnya, Kabar mengenai delapan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga direkrut untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Rusia menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Informasi tersebut mencuat setelah Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina atau Foreign Intelligence Service of Ukraine (FISU) mengungkap dugaan keterlibatan sejumlah WNI dalam militer Rusia pada akhir Agustus 2026.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bersama kementerian dan lembaga terkait kemudian melakukan verifikasi untuk memastikan identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan para WNI tersebut.

Kasus ini turut menyoroti dugaan penggunaan tawaran pekerjaan dengan bayaran tinggi untuk menarik warga negara asing bergabung dengan militer di tengah perang Rusia-Ukraina.

Diduga Ditawari Pekerjaan dengan Gaji Tinggi

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad pada awal September 2026 menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang diterima dari otoritas intelijen Indonesia, perekrutan WNI diduga dilakukan melalui pihak ketiga.

Menurut informasi tersebut, tawaran yang diberikan disebut-sebut berupa pekerjaan sebagai petugas keamanan atau tenaga administrasi dengan iming-iming gaji besar. Namun, para pelamar diduga kemudian diarahkan untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Rusia.

Sementara itu, dalam keterangannya, intelijen Ukraina menyebut tawaran yang dapat menarik calon anggota antara lain bayaran tinggi, tugas yang diklaim bukan untuk pertempuran, kemungkinan percepatan memperoleh kewarganegaraan Rusia, serta tunjangan sosial.

Meski demikian, rincian mengenai proses perekrutan masing-masing WNI, isi kontrak, dan apakah mereka mengetahui tujuan akhir pekerjaan tersebut masih perlu dipastikan melalui verifikasi resmi.

Sumber : ANTARA

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment